Apa Itu Geguritan, Arti & Pengertian Geguritan
Apa itu Geguritan? Pertanyaan tersebut mungkin Kamu pertanyakan karena tidak tahu tentang kata Geguritan. Hal ini wajar, karena mungkin saja Kamu bukan orang Jawa atau bukan orang yang terlahir di pulau jawa. Bahkan belum tentu pula orang kelahiran Jawa memahami maksud dari Geguritan itu sendiri.

Pengertian Geguritan
Pengertian geguritan menurut Wikipedia
Geguritan (berasal dari bahasa Jawa Tengahan, kata dasar: gurit, berarti “tatahan”, “coretan”), merupakan bentuk puisi yang berkembang di kalangan penutur bahasa Jawa dan Bali.
Pengertian Geguritan menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa indonesia)
geguritan yaiku puisi tradisional dalam bahasa Bali atau Jawa
Arti Geguritan
Jadi Geguritan artinya adalah Puisi yang berasal dari Jawa ataupun Bali. Sebuah Puisi yang menggunakan bahasa jawa atau Sebuah puisi yang menggunakan bahasa Bali. Namun Geguritan, lebih populer dikenal sebagai Syair Jawa atau Puisi bahasa jawa.
Geguritan
Baca : Apa Itu Puisi
Perbedaan Geguritan Jawa Dan Geruritan Bali
Geguritan yang berkembang di Bali biasanya berbentuk seperti nyanyian yang mempunyai sajak terntu. Sedangkan Geguritan yang berasal dari Jawa sudah tumbuh menjadi puisi bebas yang tidak terikat kepada aturan Metrum, Sajak, serta Lagu. Bisa dibilang jika Geguritan adalah puisi bebas yang memakai bahasa jawa.
Baca : Jenis Puisi
Sejarah Singkat Geguritan Di Jawa
Geguritan atau yang lebih dikenal sebagai Puisi Jawa Modern telah lama muncul di Jawa lewat majalah Kejawen terbitan Balai Pustakam yang awalnya dirilis pada tahun 1929. Pada zaman penjajahan Jepang, Puisi Jawa Modern (Geguritan) telah dihentikan, dan kembali muncul pada saat Zaman Revolusi Indonesia. Tokoh terkenal yang mempelopori Puisi Jawa Modern adalah R. Intoyo dan Subagiyo Ilham Notodijoyo.
Geguritan Di Jawa
Geguritan di pulau Jawa terbadi menjadi 2 golongan, yaitu : Puisi Jawa Tradisional dan Puisi Jawa Modern.
Puisi Jawa Tradisional pada umumnya memiliki bentuk seperti Tembang, dan kesemuanya dibagi kedalam tiga golongan besar, yaitu : Puisi Tembang Macapar, Puisi Tembang Gedhe, dan Puisi Tembang Tengahan. Puisi Jawa Tradisional bisa berwujud sepertiĀ Tembang Dolanan, Singir, Guritan, dan Parikan.
Puisi Jawa Modern ialah puisi bebas yang menggunakan bahasa Jawa. Sebuah puisi yang tidak diikat oleh peraturan norma yang biasa ditemukan di Puisi Jawa Tradisional, seperti : Tembang dan Kidung.
Geguritan Di Bali
Geguritan juga merupakan istilah karya sastra Puisi daerah yang dikenal di wilawah Bali. Geguritan khas Bali secara umum memakai Tembang Macapat sebagai pondasi rangkaian ceritanya. Masyarakat Bali secara luas mengenal Tembang Macapat yang terdiri dari 10 Pupuh, mijil, pucung, kumambang, ginanti, ginada, semarandana, sinom, durma, pangkur, dan dangdanggula.
Setiap pupuh itu memiliki fungsi tersendiri, sebagaimana penjelasan berikut.
- Pupuh MijilĀ = Sifatnya melahirkan perasaan. Mijil cocok untuk menguraikan nasihat, tetapi dapat juga diubah untuk seseorang yang dimabuk asmara.
- Pupuh Pucung = Sifatnya kendur, tanpa perasaan yang memuncak. Pucung cocok untuk cerita yang seenaknya atau tanpa kesungguhan, tetapi dapat juga digunakan untuk melahirkan suatu ajaran.
- Pupuh Kumambang = Sifatnya sedih merana. Kumambang cocok untuk melahirkan perasaan sedih, hati yang merana, dan menangis.
- Pupuh Ginada = Sifatnya menggambarkan kesedihan, merana, dan kecewa.
- Pupuh Ginati = Sifatnya menggambarkan kesenangan dan cinta kasih. Ginati cocok untuk menguraikan suatu ajaran, filsafat, cerita yang bersuasana asmara, dan keadaan mabuk asmara.
- Pupuh Semarandana = Sifatnya memikat hati dan sedih karena asmara.
- Pupuh Sinom = Sifatnya ramah tamah dan meresap. Sinom cocok untuk menyampaikan amanat, nasihat, atau bercakap-cakap secara bersahabat.
- Pupuh Durma = Sifatnya keras dan bengis. Durma cocok untuk melukiskan perasaan marah, cerita perang, dan pertentangan.
- Pupuh Pangkur = Sifatnya melukiskan perasaan yang memuncak, Pungkur cocok untuk cerita yang bersungguh-sungguh dan jika mabuk asmara sampai puncaknya.
- Pupuh Dangdanggula = Sifatnya halus dan lemas. Dangdanggula cocok untuk melahirkan suatu ajaran, saling menyayangi, dan menutup suatu karangan.
Baca : Contoh Geguritan